Sabtu, 07 April 2012

Perlukah Otak Cerdas Untuk Menjadi Seorang Penulis?


Tergelitik oleh tulisan kompasianer I Ketut Suweca yang berjudul “Menulis Itu Pekerjaan Tangan Atau Pekerjaan Pikiran”, sebagai orang yang sedang belajar menulis saya jadi berpikir: perlukah otak cerdas untuk menjadi seorang penulis?
Tulisan itu dimulai dengan pemaparan pendapat Andrian Harefa yang menyatakan bahwa: menulis itu adalah pekerjaan tangan, tidak diperlukan talenta khusus.
Yang diperlukan adalah praktik berkelanjutan alias pembiasaan. Yang diperlukan adalah tangan yang mengetik, mewujudkan gerakan gagasan menjadi sesuatu yang terbaca …
Pak Ketut tidak sepenuhnya menyetujui pendapat tersebut. Baginya, “pekerjaan menulis itu adalah pekerjaan pikiran dan pekerjaan tangan yang bersinergi.”
Membaca tulisan (dan komentar-komentar) di lapaknya Pak Ketut, saya jadi teringat beberapa ekpresi berikut yang sering saya temukan di lapak-lapak lain di Kompasiana:
Kompasianer cerdas
Tulisan cerdas
Pendapat cerdas
Komentar yang cerdas
5 penulis paling cerdas di Kompasiana
10 kementator paling cerdas di Kompasiana
Apa hubungannya dengan kegiatan menulis? Entahlah. Saya juga tidak tahu. Yang jelas, ekspresi tersebut hadir di wilayah online—yang artinya orang-orangnya sebagian besar belum pernah bertemu langsung, artinya juga attribute ‘CERDAS’ dinilai lewat tulisan entah itu artikel atau komentar.
Berangkat dari pemikiran sederhana itu, untuk sementara saya berkesimpulan (sebutlah hipotesa kasar): publik melihat bahwa aktivitas menulis—sedikit-banyaknya—dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan.
Saya memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Bagi saya, menulis adalah cara berkomunikasi dalam bentuk berbeda—jika dibandingkan dengan wicara. Yang biasanya disampaikan lewat lisan (ucapan) diubah menjadi bentuk tulisan.
Itu dulu dasarnya. Pertanyaan selanjutnya: apakah berbicara tidak didahului oleh proses berpikir?
Jawabannya jelas: untuk berbicara dengan baik (yang bisa dimengerti oleh lawan bicara), perlu didahului oleh proses berpikir. Berpikir secara kronologis-sistemtis. Semakin sistematis proses berpikir, semakin jelas lisan yang dihasilkan.
Bayangkan bagaimana orang mabuk berbicara. Ucapannya berantakan, blepotan, tidak jelas ujung-pangkalnya. Itu terjadi karena ucapannya lahir dari proses berpikir yang kacau. Tak jauh berbeda dengan orang yang sedang dilanda stress. Begitu juga orang yang sedang diamuk amarah, ucapannya menjadi meledak-ledak tak terkendali karena di awal, pikirannyalah yang tidak terkendali.
Nah, jika untuk menghasilkan ucapan teratur saja sudah membutuhkan proses berpikir, apalagi untuk menghasilkan tulisan. Jelas membutuhkan proses berpikir yang sistematis.
Lalu, apakah bisa dikatakan bahwa kepenulisan adalah otoritasnya kaum cerdas saja—sehingga tidak cocok untuk orang berotak pas-pasan?”, mungkin ada yang berpikir seperti itu.
Saya melihat prose menulis berlangsung melalui 3 tahapan, yaitu (1) Input – (2) Proses – (3) Output:
Tahap-1. Menggalang Ide/Gagasan – Di awal, proses penggalangan ide/gagasan adalah buah kerja PIKIRAN—artinya: bagus atau tidaknya ide/gagasan yang ditangkap, dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam berpikir. Dengan kata lain dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan seseorang.
Tahap-2. Menyusun Ide/Gagasan – Pada proses penyusunan, yang bekerja masih wilayah PIKIR. Hanya saja, yang dibutuhkan adalah kemampuan menyusun. Bagus-atau-tidaknya susunan yang dihasilkan dipengaruhi oleh kamampuan menyusun secara sistematis. Apakah kemampuan menyusun merupakan salah satu bentuk kecerdasan? Psikolog lah yang lebih tahu.
Tahap-3. Menuangkan Ide/Gagasan – Proses menuangkan ide, yang bekerja adalah wilayah VERBAL, yang dalam menulis (menurut saya) dipengaruhi oleh kemampuan mensinkronkan pikiran dengan gerakan motirik tangan. Untuk mengasah kemampuan ini yang diperlukan hanya latihan terus-menerus hingga refleks tercapai secara sempurna. Ibarat anak main game tembak-tembakan di PlayStation/Wii/Xbox360/Nintendo DS, semakin sering dia main semakin tinggi tingkat presisi dan akurasi yang bisa dicapai.
Sehingga pertanyaan “apakah kepenulisan adalah otoritas orang-orang cerdas saja?” Jawabannya tergantung pada tulisan seperti apa yang ingin dihasilkan:
1. Jika yang ingin dihasilkan adalah tulisan yang mengandung gagasan cerdas, maka yang dibutuhkan adalah kecerdasan otak belaka.
2. Jika tulisan yang ingin dihasilkan adalah tulisan yang enak dibaca, maka yang dibutuhkan adalah kemampuan menyusun secara sistematis dan reflek verbal yang baik.
3. Jika tulisan yang ingin dihasilkan adalah tulisan cerdas yang enak dibaca maka yang dibutuhkan adalah kecerdasan otak ditambah kemampuan menyusun dan reflek verbal yang baik.
Bagaimanapun juga, di tahun 1990-an, Linus Pauling (pemenang nobel Kimia tahun 1954 dan nobel perdamaian 1962) mengatakan:
I am sure that I am not smarter than other scientists. Psychologists have said that my IQ is about 160, I recognize that there are one hundred thousand or more people in the United States that have IQs higher than that.”
Dan suatu ketika, Albert Einstein (pemenang nobel Fisika tahun 1921) mengatakan:
Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving.”
So let’s keep moving!

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates

Just me ♥

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

mmm

mmm

Leave messages ^__^